Menguji Keefektifan Ujian Berbasis Android

Internet dalam masa kini sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Di era industri 4.0 yang mengutamakan semua serba internet. Salah satu manfaat internet adalah Internet of Things ( IoT), yakni penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari.
Di bidang pendidikan juga tidak ketinggalan pesatnya internet , salah satunya penggunaan sistem ujian online atau belajar online. Siswa dengan mudah dapat mencari website yang menyediakan try out online atau sekadar mencari materi di internet. Penggunaan internet sudah dimanfaatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam ujian nasional berbasis komputer.
SMA Negeri 1 Pati mungkin akan menjadi sekolah “revolutioneer” dalam hal ini yang pada Penilaian Tengah Semester (PTS) pada akhir November mendatang , dipastikan akan menggunakan Android. Hal yang sangat membanggakan sekali sekaligus masih meninggalkan tanda tanya bagaimana dan apa efektif dalam penggunaannya.
Pelaksanaan PTS berbasis Android ini , siswa harus mempersiapkan berbagai gadget yang mungkin akan membantu. Tidak lucu jika siswa tersebut lupa mengisi kuota , tapi sekolah sudah mengantisipasinya dengan memperbolehkan siswa untuk mengerjakan PTS di laboratorium komputer. Diharapkan siswa akan lebih enjoy dalam mengerjakan soal tanpa memikirkan kuota habis.
Selain itu , siswa juga diharapkan lebih jujur karena apabila siswa tersebut keluar untuk browsing , maka siswa tersebut akan dianggap selesai karena aplikasi ujian tersebut akan menutup. Sistem ini sama persis yang digunakan di berbagai bimbel online karena lebih efektif.
Tentunya aplikasi ini belum sempurna , karena mungkin “User Interface”-nya yang monoton atau hal kecil lainnya. Pengembangan aplikasi tentunya tidak usah mahal-mahal , cukup menggaet siswa-siswa yang berbakat dalam bidang IT, apalagi SMA Negeri 1 Pati memiliki Unit Kegiatan Sekolah yang bernama OSBIT yang beberapa waktu lalu meluncurkan aplikasi absensi online.
Banyak hal positif dan negatif dalam penggunaan Android di Penilaian Tengah Semester ini . Pengematan anggaran adalah salah satu dampak yang didapat , serta penghematan kertas yang tentunya tidak akan boros kertas. Namun di sisi lainnya, penggunaannya juga dapat memicu sakit , salah satunya sakit mata akibat melihat layar LCD terlalu lama.
Walaupun terkesan baru dan mendadak , tidak ada salahnya mencoba hal yang “anti-mainstream” tersebut. Diharapkan dalam beberapa waktu kedepan , selain pengembangan aplikasi yang lebih “Friendly”, tentu makin banyak sekolah yang akan menggunakan sistem seperti ini.
SMA Negeri 1 Pati membuktikan bahwa teknologi juga dapat memberikan keuntungan lebih dalam sektor pendidikan . Penggunaan ujian online berbasis Android , aplikasi E-SABAKY ( Sistem Aplikasi Belajar Aktif Komunikatif Yuli) yang juga dibuat oleh salah satu guru SMA Negeri 1 Pati , serta pembuatan absensi online membuktikan Internet of Things dapat diterapkan di dunia pendidikan.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment