Sepak Bola Damai Tanpa Kekerasan.




Kampaye damai untuk pemilihan presiden telah digaungkan. Mengapa di sepak bola tidak diterapkan demikian?

Dalam

Tewasnya Haringga Sirila, merupakan korban tewas di sepak bola Indonesia. Insiden ini bukan hanya soal rivalitas Bobotoh dan The Jak. Riviltas suporter di Indonesia secara umum memang sudah kelewat batas. Setiap tahun, kita seolah hanya menantikan kabar duka atas tewasnya suporter disebuah pertandingan sepakbola.

Kekerasan suporter memang lahir dari kultur masyarakat Indonesia sendiri. Dalam pengeroyokan tersebut, tidak sedikit dari pelaku yang sebenarnya tidak tahu pasti duduk perkaranya. Mereka bisa bertindak sebuas-buasnya manusia. Mereka seolah punya pembenaran untuk menghakimi seseorang. Situasi seperti ini bukan kesalahan pihak tertentu. Tragedi seperti ini adalah wajah buruk sepakbola Indonesia.

Kita harus melihat bagaimana kebiasaan suporter modern diluar negeri. Rivalitas diluar negeri lebih aman dibanding di Indonesia karena tindakan-tindakan kriminal suporter. Para suporter luar negeri, yang palinh barbar sekalipun, mereka lebih mengutamakan untuk meneror apalagi bertikai dengan suporter lawan.

Berbanding terbalik dengan di Indonesia. Tehran Derby merupakan rivilitas terpanas di Asia. Perbedaan latar belakang sosial budaya menjadikan derby ini lebih sekedar derby biasa. Meski tidak semegah derby Madrid dan Roma, tetapi tehran derby dan sepakbola sudah menjadi bagian dari kehidupan orang-orang  Iran dan menjadi hiburan bagi masyarakat Iran ditengah konflik negara dengan Amerika Serikat dalam  beberapa dekade ini.

Di Indonesia rivalitas suporter karena hal sepele. Rivalitas ini dimulai katena kesalahpahaman yang terjadi pada akhir 90an. Ketika itu, Bobotoh and The Jak sama sama kecewa karena tidak bisa menyaksikan laga Persib dan Persija di Stadion Siliwangi Bandung. Oleh karena itu, suporter luar negeri menyebut bahwa rivalitas di Indonesia terlampau barbar. Disinilah letak perbedaan rivalitas suporter di Indonesia dan luar negeri. Di Indonesia, oleh hal hal sepele seperti, saling ejek, salah paham atau sekedar tidak menerima kekalahan. Di luar negeri, rivalitas lahir karena perbedaan ideologi. Dampak budaya, hingga dampak peperangan dimasa lalu.

Federasi sepak bola dan pemerintah sudah terbukti tidak bisa mengatasi masalah kekerasan suporter ini. Hukuman PSSI terhadap suporter tidak pernah memberikan efek jera. PSSI tersandera oleh kegagalannya bertindak waras dan berani. Meraka mudah diserang oleh ketidakpuasannya diwaktu-waktu sebelumnya. Bisa dibayangkan kali ini PSSI beritindak tegas, misalnya menghukum Persib, akan muncul pertanyaan “Kenapa baru sekarang? Kenapa waktu suporter anu  membunuh, hukumannya tidak seperti ini?” .

Belum lagi, potensi plin plan dimasa depan jika terulang kasus serupa yang dilakukan kesebelasan atau suporter lain. Ketidaklegawaan suporter saat dihukum oleh PSSI, salah satunya dipicu oleh tidak seriusnya penegaan hukum oleh PSSI. Kendati demikian, PSSI tidak punya pilihan kali ini. Tidak bisa tidak, rantai  kekerasan diantara supporter mesti diputus. Terobosan yaang luar biasa harus dilakukan oleh PSSI, bahkan mungkin kepolisisan dan pemerintahan.

Sangat mungkin itu tidak memuaskan semua kelompok. Bisa saja terobosan yang diambil itu dinilai tidak adil bagi semua kalangan. Tidak apa-apa, yang terpenting adalah terobosan itu harus efektif memutus mata rantai kekerasan yang sudah kelewatan berdarah-darah.

Hanya ada satu cara membuat seluruh suporter sepakbola nasional berbudi pekerti luhur. Lakukan program edukasi suporter terstruktur dan masif, bukan dengan cara hukum-menghukum, maupun denda-mendenda!
Previous
Next Post »
Thanks for your comment