Menyemah Kenduri


Suara gendang dan gong masih terdengar sayup-sayup. Diiringi dengan bunyi telempong vang_berirama lembut membuai-buai.
Aku, Nawas, dan Sibus sudah jauh masuk ke hutan, meninggalkan keramaian kenduri. Kami ingin_mengintai apa yang akan dilakukan Tuk Dukun. Kata orang, setiap ada kenduri Tuk Dukun meletakkan sesaji di kuburan tua di belakang kampung. Menyemah kenduri namanya. Agar orang yang melaksanakan kenduri terbebas dari bencana.           
Kini kami sudah sampai di tepi lokasi kuburan. Sudah sejak tadi kami mengendap-endap selangkah demi selangkah tanpa suara serisik pun. Sekali-sekali kami melihat ke arah ialan setapak. Tetapi mengapa Tu k Dukun belum juga tampak?"
"Barangkali tak jadi ke sini," Nawas membuka suara, sangsi.
"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
"Menyemah kenduri tak harus ke kuburan. Ke pohon jejawi pun bisa," jelas Nawas. Tentu saja aku dan Sibus terbelalak mendengarnya. Sebab semua anak-anak kampung sudah tahu, jejawi itu pohon besar yang sangat angker. Jarang anak- anak yang berani ke sana. Lagi pula tempatnya jauh di tengah hutan.
"Siapa bilang begitu?" tanyaku akhirnya.
"Ya, orang!"
"Aku tahu, mana ada beruk yang bicara gerutuku kesal mendengar jawaban Nawas.
"Ei, sekarang aku tanya. Siapa yang bilang Tuk Dukun akan ke kuburan ini mengantarkan sesaji?" tanya Nawas seperti menantang. "Kata orang jugakan?" lanjutnya sebelum aku dan Sibus menjawab.
Kami diam. Hutan sunyi. Hanya suara gong dan telempong terdengar semakin sayup. Seperti suara dengingan nyamuk dekat telinga.
"Iya, ya. Kenapa kita bodoh betul. Kita hanya mendengar kata orang gumamku setelah tercenung sejenak. "Tapi tak apa. Kita kan hanya ingin membuktikan benar atau tidaknya kata orang itu," lanjutku.
"Nyatanya tak terbukti” sambung Sibus sejurus kemudian. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara ranting patah. Serentak aku, Nawas, dan Sibus menoleh ke arah suara.
"Ada orang!" seruku tertahan. Secepatnya kami merunduk, bersembunyi di balik gundukan tanah. Orang kampung kami menyebut gundukan tanah seperti itu munggu.
"Tuk Dukun!" bisik Nawas.
Nawas benar. Dari balik munggu kami melihat Tuk Dukun berjalan dengan tenang. Kedua tangannya menadah talam. Tentulah sisinya sesaji berupa sehidangan makanan.
"Dia ke sini.'" desis kami hampir serentak melihat Tuk Dukun melangkah ke arah kami. Tentu saja kami berdebar, "Apakah Tuk Dukun tahu ...."
"Kita sembunyi di sini?" tanya Nawas memotong ucapanku. "Atau semah kenduri itu dekat munggu mie lanjutnya cemas.
"Dekat munggu ini?"
Nawas mengangguk. "Semah hantu tanah namanya. Ada juga yang menyebutnya semah jembalang bumi," terang Nawas tanpa menoleh padaku. Dia memang banyak tahu tentang hal ini. Sebab Pak Ciknya juga seorang dukun.
"Semah hantu tanah? Ada-ada saja," ucapku tak percaya.
"Ada pula semah penunggu kuburan, semah penunggu jejawi, se..."
Aku menarik tangan Nawas sebelum dia selesai bicara. "Cepat sembunyi!" bisikku. Tetapi baru saja kami mundur beberapa langkah, tampak Tuk Dukun berbelok ke kiri, lalu terus berjalan membelakangi kami.
Kami menarik napas lega. Berarti Tuk Dukun tidak menyadari kehadiran kami di balik munggu ini. Berarti juga semah yang akan dilakukan bukan semah hantu tanah atau semah jembalang bumi seperti yang disebut Nawas. Lalu semah apa? Semah penunggu kuburan?
Tuk Dukun berhenti dekat pohon sebesar pohon kelapa, pohon loban namanya. Aku tahu pohon itu pohon loban karena melihat batangnya yang, putih kekuning-kuningan. Di dekat pangkal pohon lobaa Itulah Tuk Dukun meletakkan talam berisi makanan.
Beberapa saat lamanya dia tegak menghadap pohon loban. Dan tiba-tiba terdengar suaranya dalam bahasa yang tak kami mengerti. Kadang- kadang menggeram seram, adakalanya melingking nyaring. Karena baru sekali itu mendengarnya, merinding juga kudukku. Akan tetapi cepat kutepis rasa takut itu. Bukankah tadi aku yang mengajak Sibus dan Nawas ke sini? Padahal mereka tak ada yang mau, takut ketahuan, takut dimantrai Tuk Dukun. Siapa yang tak kenal Tuk Dukun? Dukun paling sakti di kampung kami.
"Dia membaca mantra," bisik Nawas sambil membelalak ke arahku. Tampak betul Nawas tak bisa menyembunyikan ketakutannya. "Jangan- jangan Tuk Dukun sudah tahu kita di sini. Dia hanya pura-pura tak tahu saja” lanjutnya dengan wajah cermas.
"Iya, jangan-jangan itu mantra penyihir kita” tambah Sibus pula. Matanya tak mengerjap menatapku.
"Ah, penakut betul jadi orang” aku mendengus, mengejek. Maksudku agar rasa takut kedua temanku hilang. Padahal sebenarnya aku juga sudah mulai ciut. Ah, mengapa aku ikut-ikutan jadi pengecut? Bukankah Ustad Karim sudah bilang tak boleh percaya pada penunggu kuburan? Tetapi mengapa Ustad Karim membiarkan orang-orang kampung tetap menyemah kenduri, mengantar sesaji kepada penunggu kuburan?
"Huumbala-bala, huuum bala-bala huuum, enyahlah bala-bencana, ini semah hadiah cucunda, semah untuk penguasa rimba, pe-nunggu kuburan tua. Huuum bala, ini semah pengelak bencana. Huuum bala huuum balaaa....!" terdengar suara Tuk Dukun seram menggeram. Berulang-ulang kalimat itu diucapkannya. Sampai akhirnya dia berhenti secara tiba-tiba.
Suasana pun mendadak sunyi, hening.
Kami menunggu dengan berdebar. Apalagi sesaat kemudian secara mendadak pula Tuk Dukun membalik badan. Memandang berkeliling, seperti mencari-cari sesuatu.
"Mati kita. Tuk Dukun sudah tahu kita di sini," ucap Nawas yakin.
"Ah, tidak. Mana mungkin dia tahu!" bantahku.
"Lihat, dia memandang ke sini!"
Celaka! Tuk Dukun memandang lama ke arah munggu tempat kami bersembunyi. Apa benar Tuk Dukun sudah tahu kami berada di balik munggu? Apakah dia sedang menyihir kami? Disihirnya jadi apa? Kucing? Mendingan jadi kuting. kalau jadi kancil? Atau disihir jadi ayam Ya, Tuhan Kami akan disembelih. liiiih.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment